Seminggu sebelum memulai pengembaraan ke negeri kang Obama, aku masih sempet bolak-balik Jakarta-Bandung- Bogor-Bekasi. Biasalah, selain menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan, aku juga sibuk mempersiapkan pengembaraan pertama dalam sejarah perjalanan hidupku hingga usia sekarang. Pengembaraan ini adalah sebuah perjalanan yang special mengingat jarak terjauh yang pernah aku tempuh sebelumnya hanyalah Jogjakarta; dan sekarang aku akan mengembara jauh ribuan kilometer di belahan dunia lain.
Suatu hari, setelah menyelesaikan semua urusan di tempat kerjaku – sebuah sekolah swasta “terkemuka” di wilayah Dukuh Bima Kota Legenda Bekasi – aku kembali ke Bandung untuk berkemas dan kemudian pulang ke Bogor, kangen-kangenan terakhir sama keluarga sebelum memulai pengembaraan. Seperti biasa, naik ojek Pak Simun, OB-nya sekolah, dari Dukuh Bima ke Tol Timur, tempat dimana aku biasa nunggu Bis Bekasi-Bandung langgananku – Bis berwarna putih dan bergaris merah dan cokelat disisinya. Selang 30 menit kemudian bis yang aku tunggu tiba – bis AC kelas bisnis (beda tarif AC Bisnis dan AC executive tuh Rp. 5.000,00, tapi kalau diperhatikan, fasilitas kedua bis tuh gak beda). Tempat favoritku kalo naik bis tuh di bangku tiga deret dari belakang, dan duduk di sisi jendela. Tapi karena hari itu akhir pekan, seperti biasa, akhir pekan adalah jadwalnya orang jabotabek bikin Bandung sesak, hanya ada satu bangku kosong di deret tengah. Disitu sudah duduk seorang ibu berumur sekitar 40 tahun; sekilas dari pakaian yang dia kenakan aku dapat menebak dia adalah seorang pegawai pemerintah, kemudian aku duduk disebelahnya. Tak lama kemudian bis pun masuk gerbang tol Bekasi Timur menyusuri jalan tol Cikampek dan kemudian akan diteruskan ke tol Cipularang. Saat itu sekitar pukul 1 siang, jadi aku perkirakan tiba di Bandung sekitar pukul 3; dengan adanya tol Cipularang, perjalanan Bekasi-Bandung dapat ditempuh hanya dalam waktu 2 jam saja. Biasanya, aku dulu beberapa kali naik bis Bandung-Bekasi sebelum ada tol Cipularang, perjalanan Bekasi-Bandung butuh waktu sekitar 5 jam karena bis harus keluar di tol Cikampek dan meneruskan perjalanan melalui jalur biasa lewat Purwakarta. Selain jalur jalannya berkelok dan bis sering berhenti menaikan penumpang, perjalanan semakin lama karena bis biasanya istirahat sekitar 30 menit di Plered Purwakarta. Pernah suatu waktu sebelum ada tol Cipularang, aku ke Bandung via Bekasi, entah kenapa perjalanan yang biasanya memakan waktu 5 jam, waktu itu hanya ditempuh dalam waktu 4 jam saja. Menyelusuri jalalan Purwakarta dan Cikalong Wetan yang berliku dan berjurang, dan tiba pada waktu lebih cepat satu jam dari biasanya, perasaan penumpang saat itu sangat bahagia. Bahkan ada seorang penumpang yang mengucapkan terima kasih ke sopir dan kondektur, “hatur nuhun kang, cepet euy, jeung salamet dugi ka Bandung” – begitu katanya dalam Basa Sunda, yang kurang lebih artinya terima kasih karena perjalanan cepat dan selamat tiba di Bandung.
Menjelang pintu tol Cikampek, bis berjalan tersendat karena terjadi kemacetan di pintu tol tersebut. Kuperhatikan si ibu yang duduk disebelahku nampak gelisah. Sepertinya dia sedang terburu-buru sehingga nampak sangat tidak nyaman dengan kemacetan itu. Perlahan tapi pasti bis bisa keluar dari kerumunan kendaraan menjelang pintu tol Cikampek, dan mulai masuk ke jalur tol Cipularang. Tapi sepertinya kegelisahan si ibu tersebut bukannya mereda, melainkan malah semakin menjadi. Hal ini dikarenakan bis yang kami tumpangi berjalan sangat lamban; mungkin karena kondisinya yang sudah tua dan masih dipaksakan untuk mengangkut penumpang. Beberapa kali bis itu disalip oleh bis lain, bahkan oleh sesama bis Bekasi-Bandung yang berangkat belakangan dari Bekasi. Apalagi ketika melewati jalur menanjak, bis itu berjalan sangat pelan. Kegelisahan si Ibu di samping ku pun semakin menjadi, bahkan saat itu dia bukan hanya gelisah, tapi mulai bersungut-sungut dan ngomel, “Ni bis apa bebek sih, jalan lamban banget”. Dia terus ngomel, “barang rongsokan koq masih dipaksakan nyari duit, amatiran nih perusahaan bis”. Sepanjang jalan terus saja si ibu itu ngedumel. Ah, sialnya aku hari itu, mimpi apa aku semalam, kalo duduk satu bangku sama gadis sih, bis jalan kaya siput seperti itu malah aku seneng; nah ini, sebangku dengan “gadis jaman kumpeni” dah gitu ngomel-ngomel melulu, naas. Tapi akhirnya tiba juga bis itu di Bandung sekitar pukul setengah empat. Bis itu terlambat 30 menit dari waktu tempuh biasanya. Ketika turun di terminal Leuwi Panjang, si ibu itu masih sempet ngomelin sopir bis, “eh bilangin yah ke bos loe, bis kaya gini seharusnya dikilo tuh di tukang besi tua”.
Aku teringat, pernah membaca, – hmm tapi lupa lagi, artikel atau buku yah – tapi yang pasti disitu disebutkan kalau semakin maju tekhnologi, semakin sulit orang untuk bahagia; karena ekspektasi dan tolok ukur kebahagiaan orang meningkat seiring dengan majunya tekhnologi. Hal itu mungkin yang terjadi pada si ibu tadi. Jelas sekali dia tidak bahagia karena bis tersebut berjalan dengan lamban sehingga dia terlambat tiba di Bandung. Bandingkan dengan perjalanan yang aku ceritakan diatas sebelumnya, sebelum ada tol Cipularang. Perjalanan yang biasanya lima jam dapat ditempuh dalam waktu empat jam sajah; dan itu sangat membuat penumpang bahagia. Empat jam dalam perjalanan menelusuri jalur jalan yang berkelok dan berjurang, dan selamat sapai ditujuan, merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Dan seiring dengan kemajuan tekhnologi, dibangunlah tol Cipularang sehingga jarak Bekasi-Bandung jadi semakin dekat, cukup ditempuh dalam waktu dua jam sajah; atau lebih sedikit. Namun sepertinya kemajuan tekhnologi berupa hadirnya jalan tol Cipularang telah membuat ekspektasi si ibu tadi juga meningkat. Dia jelas tidak bahagia dengan waktu tempuh perjalanan dua setengah jam dari Bekasi ke Bandung dengan kondisi jalan relative lebih nyaman. Sementara dulu sebelum ada tol Cipularang, orang sangat bahagia ketia tiba di Bandung dengan selamat setelah menempuh perjalanan menelusuri jalan berliku dan berjurang, dan lebih cepat dari biasanya. Empat jam perjalanan sebelum ada tol Cipularang ternyata lebih membahagiakan daripada dua jam setengah perjalanan setelah ada tol Cipularang.
Aku juga teringat pada salah seorang temanku dulu di kampus. Dia mengirim SMS menanyakan kabar ke cewenya. Tapi si cewenya itu, mungkin karena sedang sibuk, sedang di kamar mandi, HPnya disilen, atau lagi tidak punya pulsa, dia terlambat membalas SMS itu; 15 menit kemudian baru dia balas. Jelas, temenku itu sangat kesal karena cwenya lambat membalas SMS dia; bahkan sejurus kemudian cemburunya muncul, “loe udah gak perhatian lagi ke gue yah?”, begitulah SMS balasan yang dia kirimkan. Dulu, waktu jaman masih SMP/SMA, orang berkomunikasi dengan temen atau pacar lewat surat. Butuh waktu minimal satu minggu agar surat itu tiba di tujuan, jika lewat pak Pos, tapi jika lewat Mak comblang, yah minimal 2 hari surat itu baru sampai ke tujuan. Dan surat balasan biasanya seminggu kemudian atau beberapa hari kemudian baru datang. Dan ketika balasan itu datang, waaahhhh .. gak kebayang bahagianya (klo yang ni pengalaman sendiri). Bahagia sekali menerima surat balasan setelah menunggu setidaknya satu minggu. Tekhnologi terus berkembang, munculah telepon seluler atau HP (orang dikita bilangnya Handphone, disingkat HP. Entah darimana istilah itu ada, padalah bahasa Inggrisnya kan Cell Phone, bukan Hand Phone). Mengirim kabar cukup lewat SMS dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit sajah, atau bahkan detik. Tapi tetep saja orang tidak bahagia ketika SMS yang dia kirim telat dibalas beberapa menit sajah oleh si penerima. Seperti yang terajdi pada temenku tadi. Menunggu dalam waktu hitungan menit ternyata tidak membuat orang lebih bahagia dibanding menunggu dalam hitungan hari. Itu mungkin salah satu contoh lain dari semakin maju tekhnologi, semakin sulit orang bahagia. Bahkan dalam beberpa hal, kemajuan tekhnologi malah membuat manusia sengsara. Nah untuk yang satu ini akan dibahas pada curhatan berikutnya. Wallahu’alam Bissowab …..
Belum ada Judul
January 31, 2010 by shevazidane