Tahun 1968, Jane Elliot, seorang guru kelas 3 SD di Amerika Serikat, melakukan sebuah eksperimen yang dikenal dengan Blue Eyes, Brown Eyes. Dia mencoba untuk melakukan sebuah propaganda diskriminatif terhadap siswanya dimana dia menyebutkan bahwa siswa yang bermata biru adalah siswa yang lebih cerdas, lebih rajin, dan lebih memiliki kemungkinan untuk berhasil dibanding siswa yang bermata coklat, yang dia kategorikan sebagai siswa yang malas, bodoh, dan tak dapat dipercaya. Dia berulang-ulang menyatakan propaganda itu di kelas. Dalam tempo beberapa hari, dia menemukan bahwa siswa yang bermata biru mengalami peningkatan kinerja dalam pembelajaran di kelas. Mereka nampak lebih rajin, ranking nilai mereka meningkat, dan lebih cepat dalam mengerjakan tugas, dibanding siswa yang bermata coklat. Beberapa hari kemudian, Jane Elliot merubah strategi propagandanya. Kali ini sebaliknya, dia menyatakan bahwa dia keliru beranggapan bahwa siswa yang bermata biru adalah siswa yang lebih rajin, cerdas, dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhasil dibanding siswa bermata coklat. Yang benar adalah, siswa bermata coklatlah yang lebih rajin, cerdas, dan berhasil. Dalam tempo beberapa hari, situasipun berubah kebalikannya. Siswa yang bermata biru, yang tadinya memiliki kinerja baik di kelas, kini menurun; dan sebaliknya, siswa bermata cokelat mengalami kenaikan kinerja di kelas.
The Placebo Effect
The placebo effect saat ini banyak diyakini oleh para Dokter. Intinya, orang akan lebih mungkin mengalami kesembuhan jika mereka meyakini bahwa obat yang mereka konsumsi adalah obat yang manjur. Misalnya, ketika orang mengkonsumsi obat pereda sakit, dan yakin obat itu adalah obat yang mujarab, maka orang akan merasakan sakit tersebut mereda; meski pada kenyataannya obat tersebut sebenarnya bukanlah obat yang mujarab untuk mengurangi rasa sakit. Inilah yang disebut dengan placebo effect.
Elliot bertujuan memberikan pengalaman diskriminatif kepada siswa dan melihat bagaimana dampaknya. Di satu sisi, apa yang Elliot lakukan sangat beresiko mengingat isu-isu diseputar perbedaan warna (kulit, mata, dsb) merupakan hal yang controversial. Namun, disisi lain, terdapat sebuah pelajaran penting tentang kekuatan positive reinforcement: anak yang dipuji dan ditinggikan keyakinan bahwa dirinya lebih baik dari anak lain, ternyata memiliki kinerja lebih baik dari sebelumnya; dan hal tersebut berlaku bagi kedua belah pihak – anak yang bermata biru dan anak yang bermata coklat. Apa yang Elliot lakukan ini adalah contoh dari apa yang disebut dengan LABELLING THEORY – yakni diyakini bahwa kita cenderung bertindak sesuai dengan label yang orang lain berikan pada kita, atau label yang kita sematkan pada diri kita sendiri. Sehingga, jika kita yakin bahwa kita dapat meraih pencapaian yang hebat, dan kita mulai melabeli diri kita dengan label “pemenang”, maka kita memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mencapainya. Selain melabeli diri dengan hal-hal positive, kita juga harus yakin akan usaha dan kemampuan kita dan selalu berperasangka bahwa semua usaha itu akan memberikan hasil yang positive. Seperti contoh pada the placebo effect, kesimpulan dari contoh pada the placebo effect adalah bahwa jika kita YAKIN sesuatu akan terjadi, maka sesuatu itu akan lebih mungkin menjadi kenyataan – tentunya keyakinan tersebut juga harus dibarengi dengan ikhtiar terbaik. Positive thinking and believing akan mengarahkan kita pada positive results.
Maka dari itu, guru di sekolah, dan orang tua di rumah, hendaklah mulai untuk menggunakan positive reinforcement dalam mendidik anak. Sebuah pujian sederhana seperti “Pinter, hebat, excellecence, dsb”, bisa menjadi pendorong yang luar biasa bagi anak. Pujian itu akan mengangkat keyakinan mereka bahwa mereka memang anak yang pintar, rajin, atau hebat. Keyakinan itu kemudian akan membentuk sikap mental yang mengarahkan mereka untuk bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut. Orang tua hendaknya melabeli anak dengan label-label yang baik, seperti “anak sholeh/ha, anak pinter, anak rajin” dan sebagainya. Label-label baik tersebut akan membantu anak dalam menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri. Doronglah anak untuk selalu bersikap positive atas apapun hasil dari usaha yang mereka raih. Jauhkanlah prasangka-prasangka negative dan buruk yang hanya akan menghambat perkembangan pemikiran anak.
Mengenai the power of Believing, dalam masyarakat Sunda (tidak bermaksud sukusime), orang tua kita sering memberikan nasihat agar jangan terlalu khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi; karena sesuatu yang terlalu dikhawatirkan akan terjadi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terjadi. Bukankah keyakinan itu secara tidak langsung merupakan Do’a. Seberapa hebat usaha yang kita lakukan akan merujuk pada seberapa yakin kita akan pencapaian dari usaha itu; demikian juga dengan hasilnya. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa iman itu meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Mari kita aplikasikan definisi iman pada usaha kita dalam mewujudkan cita-cita. Yakinkan dalam hati, ucapkan dengan lisan dalam bentuk Do’a, lalu lakukanlah usaha terbaik untuk mewujudkannya.
Bukankah Tuhan dan Rasul-Nya telah mengingatkan kita mengenai LABELLING THEORY dan the Power of Believing itu: Bukankah Tuhan berujar dalam kitab-Nya agar kita jangan melabeli diri kita dengan label-label yang buruk:
“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Alhujurat:11)
dan berperasangka baik:
“Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku (Albaqarah, 186)”. Atau
“Sesuangguhnya Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya” (Ar’rad: 11).
*Disarikan dari diskusi di kelas Psychology of Learning dengan topic Intorduction to Appreciative Inquiry bersama Dr. John Pijanowski.