Dalam bukunya, “The Global Achievment Gap”, Tony Wagner, seorang Professor Pendidikan dari Harvard University, menguraikan ada tujuh keahlian yang wajib diajarkan di sekolah agar siswa mampu bersaing dalam kompetisi global; ketujuh keahlian tersebut diantaranya yang pertama adalah Critical Thinking and Problem Solving; Kedua, Collaboration across network and leading by influence; ketiga, Agility dan adaptability; keempat, Initiative and Entrepreunalism; kelima, Effective oral and written communication; keenam, Accessing and analyzing information, dan ketujuh adalah Curiosity and imagination. Untuk dapat menghasilkan manusia-manusia yang memiliki keahlian seperti disebutkan diatas. Apakah cukup hanya dengan mengadakan latihan soal; simulasi mengisi soal dengan cepat dan tepat, seperti yang umum dilakukan siswa kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA/SMK tiap kali menjelang Ujian Nasional?
My presentation
http://www.authorstream.com/Presentation/shevazidane-381025-Psychology-Learning-Theory-Foreign-Languag-of-l-Education-ppt-powerpoint/
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Seminggu sebelum memulai pengembaraan ke negeri kang Obama, aku masih sempet bolak-balik Jakarta-Bandung- Bogor-Bekasi. Biasalah, selain menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan, aku juga sibuk mempersiapkan pengembaraan pertama dalam sejarah perjalanan hidupku hingga usia sekarang. Pengembaraan ini adalah sebuah perjalanan yang special mengingat jarak terjauh yang pernah aku tempuh sebelumnya hanyalah Jogjakarta; dan sekarang aku akan mengembara jauh ribuan kilometer di belahan dunia lain.
Suatu hari, setelah menyelesaikan semua urusan di tempat kerjaku – sebuah sekolah swasta “terkemuka” di wilayah Dukuh Bima Kota Legenda Bekasi – aku kembali ke Bandung untuk berkemas dan kemudian pulang ke Bogor, kangen-kangenan terakhir sama keluarga sebelum memulai pengembaraan. Seperti biasa, naik ojek Pak Simun, OB-nya sekolah, dari Dukuh Bima ke Tol Timur, tempat dimana aku biasa nunggu Bis Bekasi-Bandung langgananku – Bis berwarna putih dan bergaris merah dan cokelat disisinya. Selang 30 menit kemudian bis yang aku tunggu tiba – bis AC kelas bisnis (beda tarif AC Bisnis dan AC executive tuh Rp. 5.000,00, tapi kalau diperhatikan, fasilitas kedua bis tuh gak beda). Tempat favoritku kalo naik bis tuh di bangku tiga deret dari belakang, dan duduk di sisi jendela. Tapi karena hari itu akhir pekan, seperti biasa, akhir pekan adalah jadwalnya orang jabotabek bikin Bandung sesak, hanya ada satu bangku kosong di deret tengah. Disitu sudah duduk seorang ibu berumur sekitar 40 tahun; sekilas dari pakaian yang dia kenakan aku dapat menebak dia adalah seorang pegawai pemerintah, kemudian aku duduk disebelahnya. Tak lama kemudian bis pun masuk gerbang tol Bekasi Timur menyusuri jalan tol Cikampek dan kemudian akan diteruskan ke tol Cipularang. Saat itu sekitar pukul 1 siang, jadi aku perkirakan tiba di Bandung sekitar pukul 3; dengan adanya tol Cipularang, perjalanan Bekasi-Bandung dapat ditempuh hanya dalam waktu 2 jam saja. Biasanya, aku dulu beberapa kali naik bis Bandung-Bekasi sebelum ada tol Cipularang, perjalanan Bekasi-Bandung butuh waktu sekitar 5 jam karena bis harus keluar di tol Cikampek dan meneruskan perjalanan melalui jalur biasa lewat Purwakarta. Selain jalur jalannya berkelok dan bis sering berhenti menaikan penumpang, perjalanan semakin lama karena bis biasanya istirahat sekitar 30 menit di Plered Purwakarta. Pernah suatu waktu sebelum ada tol Cipularang, aku ke Bandung via Bekasi, entah kenapa perjalanan yang biasanya memakan waktu 5 jam, waktu itu hanya ditempuh dalam waktu 4 jam saja. Menyelusuri jalalan Purwakarta dan Cikalong Wetan yang berliku dan berjurang, dan tiba pada waktu lebih cepat satu jam dari biasanya, perasaan penumpang saat itu sangat bahagia. Bahkan ada seorang penumpang yang mengucapkan terima kasih ke sopir dan kondektur, “hatur nuhun kang, cepet euy, jeung salamet dugi ka Bandung” – begitu katanya dalam Basa Sunda, yang kurang lebih artinya terima kasih karena perjalanan cepat dan selamat tiba di Bandung.
Menjelang pintu tol Cikampek, bis berjalan tersendat karena terjadi kemacetan di pintu tol tersebut. Kuperhatikan si ibu yang duduk disebelahku nampak gelisah. Sepertinya dia sedang terburu-buru sehingga nampak sangat tidak nyaman dengan kemacetan itu. Perlahan tapi pasti bis bisa keluar dari kerumunan kendaraan menjelang pintu tol Cikampek, dan mulai masuk ke jalur tol Cipularang. Tapi sepertinya kegelisahan si ibu tersebut bukannya mereda, melainkan malah semakin menjadi. Hal ini dikarenakan bis yang kami tumpangi berjalan sangat lamban; mungkin karena kondisinya yang sudah tua dan masih dipaksakan untuk mengangkut penumpang. Beberapa kali bis itu disalip oleh bis lain, bahkan oleh sesama bis Bekasi-Bandung yang berangkat belakangan dari Bekasi. Apalagi ketika melewati jalur menanjak, bis itu berjalan sangat pelan. Kegelisahan si Ibu di samping ku pun semakin menjadi, bahkan saat itu dia bukan hanya gelisah, tapi mulai bersungut-sungut dan ngomel, “Ni bis apa bebek sih, jalan lamban banget”. Dia terus ngomel, “barang rongsokan koq masih dipaksakan nyari duit, amatiran nih perusahaan bis”. Sepanjang jalan terus saja si ibu itu ngedumel. Ah, sialnya aku hari itu, mimpi apa aku semalam, kalo duduk satu bangku sama gadis sih, bis jalan kaya siput seperti itu malah aku seneng; nah ini, sebangku dengan “gadis jaman kumpeni” dah gitu ngomel-ngomel melulu, naas. Tapi akhirnya tiba juga bis itu di Bandung sekitar pukul setengah empat. Bis itu terlambat 30 menit dari waktu tempuh biasanya. Ketika turun di terminal Leuwi Panjang, si ibu itu masih sempet ngomelin sopir bis, “eh bilangin yah ke bos loe, bis kaya gini seharusnya dikilo tuh di tukang besi tua”.
Aku teringat, pernah membaca, – hmm tapi lupa lagi, artikel atau buku yah – tapi yang pasti disitu disebutkan kalau semakin maju tekhnologi, semakin sulit orang untuk bahagia; karena ekspektasi dan tolok ukur kebahagiaan orang meningkat seiring dengan majunya tekhnologi. Hal itu mungkin yang terjadi pada si ibu tadi. Jelas sekali dia tidak bahagia karena bis tersebut berjalan dengan lamban sehingga dia terlambat tiba di Bandung. Bandingkan dengan perjalanan yang aku ceritakan diatas sebelumnya, sebelum ada tol Cipularang. Perjalanan yang biasanya lima jam dapat ditempuh dalam waktu empat jam sajah; dan itu sangat membuat penumpang bahagia. Empat jam dalam perjalanan menelusuri jalur jalan yang berkelok dan berjurang, dan selamat sapai ditujuan, merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Dan seiring dengan kemajuan tekhnologi, dibangunlah tol Cipularang sehingga jarak Bekasi-Bandung jadi semakin dekat, cukup ditempuh dalam waktu dua jam sajah; atau lebih sedikit. Namun sepertinya kemajuan tekhnologi berupa hadirnya jalan tol Cipularang telah membuat ekspektasi si ibu tadi juga meningkat. Dia jelas tidak bahagia dengan waktu tempuh perjalanan dua setengah jam dari Bekasi ke Bandung dengan kondisi jalan relative lebih nyaman. Sementara dulu sebelum ada tol Cipularang, orang sangat bahagia ketia tiba di Bandung dengan selamat setelah menempuh perjalanan menelusuri jalan berliku dan berjurang, dan lebih cepat dari biasanya. Empat jam perjalanan sebelum ada tol Cipularang ternyata lebih membahagiakan daripada dua jam setengah perjalanan setelah ada tol Cipularang.
Aku juga teringat pada salah seorang temanku dulu di kampus. Dia mengirim SMS menanyakan kabar ke cewenya. Tapi si cewenya itu, mungkin karena sedang sibuk, sedang di kamar mandi, HPnya disilen, atau lagi tidak punya pulsa, dia terlambat membalas SMS itu; 15 menit kemudian baru dia balas. Jelas, temenku itu sangat kesal karena cwenya lambat membalas SMS dia; bahkan sejurus kemudian cemburunya muncul, “loe udah gak perhatian lagi ke gue yah?”, begitulah SMS balasan yang dia kirimkan. Dulu, waktu jaman masih SMP/SMA, orang berkomunikasi dengan temen atau pacar lewat surat. Butuh waktu minimal satu minggu agar surat itu tiba di tujuan, jika lewat pak Pos, tapi jika lewat Mak comblang, yah minimal 2 hari surat itu baru sampai ke tujuan. Dan surat balasan biasanya seminggu kemudian atau beberapa hari kemudian baru datang. Dan ketika balasan itu datang, waaahhhh .. gak kebayang bahagianya (klo yang ni pengalaman sendiri). Bahagia sekali menerima surat balasan setelah menunggu setidaknya satu minggu. Tekhnologi terus berkembang, munculah telepon seluler atau HP (orang dikita bilangnya Handphone, disingkat HP. Entah darimana istilah itu ada, padalah bahasa Inggrisnya kan Cell Phone, bukan Hand Phone). Mengirim kabar cukup lewat SMS dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit sajah, atau bahkan detik. Tapi tetep saja orang tidak bahagia ketika SMS yang dia kirim telat dibalas beberapa menit sajah oleh si penerima. Seperti yang terajdi pada temenku tadi. Menunggu dalam waktu hitungan menit ternyata tidak membuat orang lebih bahagia dibanding menunggu dalam hitungan hari. Itu mungkin salah satu contoh lain dari semakin maju tekhnologi, semakin sulit orang bahagia. Bahkan dalam beberpa hal, kemajuan tekhnologi malah membuat manusia sengsara. Nah untuk yang satu ini akan dibahas pada curhatan berikutnya. Wallahu’alam Bissowab …..
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Tahun 1968, Jane Elliot, seorang guru kelas 3 SD di Amerika Serikat, melakukan sebuah eksperimen yang dikenal dengan Blue Eyes, Brown Eyes. Dia mencoba untuk melakukan sebuah propaganda diskriminatif terhadap siswanya dimana dia menyebutkan bahwa siswa yang bermata biru adalah siswa yang lebih cerdas, lebih rajin, dan lebih memiliki kemungkinan untuk berhasil dibanding siswa yang bermata coklat, yang dia kategorikan sebagai siswa yang malas, bodoh, dan tak dapat dipercaya. Dia berulang-ulang menyatakan propaganda itu di kelas. Dalam tempo beberapa hari, dia menemukan bahwa siswa yang bermata biru mengalami peningkatan kinerja dalam pembelajaran di kelas. Mereka nampak lebih rajin, ranking nilai mereka meningkat, dan lebih cepat dalam mengerjakan tugas, dibanding siswa yang bermata coklat. Beberapa hari kemudian, Jane Elliot merubah strategi propagandanya. Kali ini sebaliknya, dia menyatakan bahwa dia keliru beranggapan bahwa siswa yang bermata biru adalah siswa yang lebih rajin, cerdas, dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhasil dibanding siswa bermata coklat. Yang benar adalah, siswa bermata coklatlah yang lebih rajin, cerdas, dan berhasil. Dalam tempo beberapa hari, situasipun berubah kebalikannya. Siswa yang bermata biru, yang tadinya memiliki kinerja baik di kelas, kini menurun; dan sebaliknya, siswa bermata cokelat mengalami kenaikan kinerja di kelas.
The Placebo Effect
The placebo effect saat ini banyak diyakini oleh para Dokter. Intinya, orang akan lebih mungkin mengalami kesembuhan jika mereka meyakini bahwa obat yang mereka konsumsi adalah obat yang manjur. Misalnya, ketika orang mengkonsumsi obat pereda sakit, dan yakin obat itu adalah obat yang mujarab, maka orang akan merasakan sakit tersebut mereda; meski pada kenyataannya obat tersebut sebenarnya bukanlah obat yang mujarab untuk mengurangi rasa sakit. Inilah yang disebut dengan placebo effect.
Elliot bertujuan memberikan pengalaman diskriminatif kepada siswa dan melihat bagaimana dampaknya. Di satu sisi, apa yang Elliot lakukan sangat beresiko mengingat isu-isu diseputar perbedaan warna (kulit, mata, dsb) merupakan hal yang controversial. Namun, disisi lain, terdapat sebuah pelajaran penting tentang kekuatan positive reinforcement: anak yang dipuji dan ditinggikan keyakinan bahwa dirinya lebih baik dari anak lain, ternyata memiliki kinerja lebih baik dari sebelumnya; dan hal tersebut berlaku bagi kedua belah pihak – anak yang bermata biru dan anak yang bermata coklat. Apa yang Elliot lakukan ini adalah contoh dari apa yang disebut dengan LABELLING THEORY – yakni diyakini bahwa kita cenderung bertindak sesuai dengan label yang orang lain berikan pada kita, atau label yang kita sematkan pada diri kita sendiri. Sehingga, jika kita yakin bahwa kita dapat meraih pencapaian yang hebat, dan kita mulai melabeli diri kita dengan label “pemenang”, maka kita memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mencapainya. Selain melabeli diri dengan hal-hal positive, kita juga harus yakin akan usaha dan kemampuan kita dan selalu berperasangka bahwa semua usaha itu akan memberikan hasil yang positive. Seperti contoh pada the placebo effect, kesimpulan dari contoh pada the placebo effect adalah bahwa jika kita YAKIN sesuatu akan terjadi, maka sesuatu itu akan lebih mungkin menjadi kenyataan – tentunya keyakinan tersebut juga harus dibarengi dengan ikhtiar terbaik. Positive thinking and believing akan mengarahkan kita pada positive results.
Maka dari itu, guru di sekolah, dan orang tua di rumah, hendaklah mulai untuk menggunakan positive reinforcement dalam mendidik anak. Sebuah pujian sederhana seperti “Pinter, hebat, excellecence, dsb”, bisa menjadi pendorong yang luar biasa bagi anak. Pujian itu akan mengangkat keyakinan mereka bahwa mereka memang anak yang pintar, rajin, atau hebat. Keyakinan itu kemudian akan membentuk sikap mental yang mengarahkan mereka untuk bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut. Orang tua hendaknya melabeli anak dengan label-label yang baik, seperti “anak sholeh/ha, anak pinter, anak rajin” dan sebagainya. Label-label baik tersebut akan membantu anak dalam menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri. Doronglah anak untuk selalu bersikap positive atas apapun hasil dari usaha yang mereka raih. Jauhkanlah prasangka-prasangka negative dan buruk yang hanya akan menghambat perkembangan pemikiran anak.
Mengenai the power of Believing, dalam masyarakat Sunda (tidak bermaksud sukusime), orang tua kita sering memberikan nasihat agar jangan terlalu khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi; karena sesuatu yang terlalu dikhawatirkan akan terjadi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terjadi. Bukankah keyakinan itu secara tidak langsung merupakan Do’a. Seberapa hebat usaha yang kita lakukan akan merujuk pada seberapa yakin kita akan pencapaian dari usaha itu; demikian juga dengan hasilnya. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa iman itu meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Mari kita aplikasikan definisi iman pada usaha kita dalam mewujudkan cita-cita. Yakinkan dalam hati, ucapkan dengan lisan dalam bentuk Do’a, lalu lakukanlah usaha terbaik untuk mewujudkannya.
Bukankah Tuhan dan Rasul-Nya telah mengingatkan kita mengenai LABELLING THEORY dan the Power of Believing itu: Bukankah Tuhan berujar dalam kitab-Nya agar kita jangan melabeli diri kita dengan label-label yang buruk:
“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Alhujurat:11)
dan berperasangka baik:
“Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku (Albaqarah, 186)”. Atau
“Sesuangguhnya Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya” (Ar’rad: 11).
*Disarikan dari diskusi di kelas Psychology of Learning dengan topic Intorduction to Appreciative Inquiry bersama Dr. John Pijanowski.
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »